Apa kabar pergumulan seumpan harapan?

Aside

Lengan-lengan baju tersingkap tinggi-tinggian
jatuhan peluh terbawa ribuan gelombang yg diselipkan angin dan kabut tebal

pagi-pagi seperti kemarin
kami membawa cangkul masing-masing
menjinjing tas berisi minuman dilakukan oleh seorang wanita putih bersih
dan di sebelahnya sibuk mengangguk-angguk gadis lugu dengan komik jepun asli
“bangunan utama sudah jadi oleh warga desa, saya mau bikin tambak lele di sana, lumayan buat makan warga sini” Anton merujuk tanah lima kali emam di kiri bangunan permanen yang seadanya.
“Bagus kak, bikin kebun sawi juga, cabe, bayem” gadis lugu yg sedari tadi acuh ikut bicara. Dilepas headset di telinganya, ia mulai kembali menjingkraki tanah basah itu, menciumi embun yg biasanya menyapanya tiap minggu, mengintip kemungkinan dari ujung gang tampak puluhan anak2 berbaju panjang pembawa buku dan semangat lebih dari pendemo paska minum ciu.
“Itu di luar proposal Del, ayo cepet buka kelas. Sebentar lagi yg laen nyusul” wanita berjilbab merah tadi menariknya, membawa ia pada kenyataan paling dekat dengan proses pembelajaran. Kelas lapang tanpa kursi, whiteboard besar, tanpa kursi dan meja guru, bendera merah putih besar, globe di rak penuh buku, kalender islam, dan setempel tanda tangan dari orang2 hebat yg diartikan sebagai bentuk dukungan moril.
“Ya tuhan berapa lama gak ke sini, aku kangen” ia membaur bersama kecoa di ujung2 kelas, mengambil sapu, bergumul bersama semut yg hendak menggotong semut lain yg meninggal.
Minggu pagi lagi, berjuta aksara tentang motivasi, pencarian jatidiri, ungkapan2 abstrak paling benar dari kawanan orang2 hebat yg Tuhan kirimkan.
Ini yg lebih nyata, bertemu sekelompok manusia2 pengubah mud terendah menjadi geliat tertinggi.
Ia pikir hidup tak pernah memaksanya statis.
Mengikuti tiap aliran sungai yg membawanya ke pantai, menanjaki gunung yg membuatnya tertantang, mencicipi salju yg membekukan lidahnya agar tak berfrasa, atau mendapati diri makin kaya makin tak perduli pada siapa saja.
Tapi hidup tak benar2 menjauhkannya dari orang seperduli air comberan pada lumut di pinggirnya.
Hidup tak pernah sematerialistik daftar barang yg harus dipenuhinya.
Juga Minggu ini, saat musim melewati basahnya.
Saat tahun mengulang kebosanannya, ia kembali dengan congkak dan lugunya.
Aku mengamati tiap bahasa campur Russia, Jepang, dan Jawa yg ia dongengkan pada puluhan anak2 dengan tawa indah.
Bahkan ketika raga tak menyentuh bagaimana hangat letupan salamnya.
Aku masih ingat tiga tahun lalu, sebelum kami sama2 menghadapi tabrakan mobil dan aku kehilangan wujudku.
Tak terlihat dia dan kawan2nya, aku tetap meniupkan dingin yg melibihi bekunya salju.
Menjelma dalam sebuah isyarat “mati bukanlah ketika kau tak lagi mampu apa2, tapi ketika kau tak lagi percaya pada mimpi”

“Oke teman2 kesimpulannya adalah, belajar beribadah dan bermimpi itu seperti makan buar air dan mencangkul sawah, jika kalian melepas salah satunya kalian takkan benar2 sehat menjadi manusia, dan satu lagi…. Tak ada manusia yg lebih jahat dari yg tidak mau mengakui apa mimpinya dengan mengatakan “Saya gak mau menjadi apa2, next week kita ketemu yah”
Ia menutup pagi tanpa kegersangan mentari pukul dua belas siang. Menyisihkan do’a paling khidmat sebelum do’a utama. Mendengar azan , mengamini tiap Allohu Akbar yg mengiung keras…..

(belasan Minggu lalu sebelum kami kehilangan semuanya)

Advertisements

Then

Aside

Aku sudah memutuskan hal yg setidaknya tak merugikanmu tak juga merugikanku.
Menghapus kontak yg ku selipkan foto dengan nama Warriorku dan membuang foto2 serta skrin sut yg slalu buatku tertawa pada beberapa bulan ke belakang.
Juga memastikan bahwa aku memang sekotor ucapanku, menjentikan biangla-biangla kecewa yg ku buat karna marah.
Aku harusnya sadar, rasa itu bak putaran detik pada jam dinding kamar yg sewaktu-waktu akan berhenti dan diganti oleh batrei baru.
Termasuk masalah hati.
Meski itu sama saja mengosongkan harapan beberapa bulan ke depan mengembalikan kenormalan.
Maaf terlalu memaksamu untuk menemaniku.
Juga semua analogi sampah yg aku koar2kan.
Bagaimanapun wujudmu.
Aku tetap mematungkanmu dengan nama Warrior meski itu sama saja aku lebih banyak membuka sedih yg merupa dalam wajah.
I miss u

Sepasang senja. . .

Aside

Kemarin,
saat sore angkuh untuk bermesraan dengan keriuhan kota
memilih membenamkan raga lebih awal dari catatan sejarah
sepasang anak manusia memutuskan sudah lupakan angkara dan kemelut rasa. . .

termasuk mengalah?

Menyisir banyak2 luapan tak perduli
berlalu tanpa sempat menunjuk berapa buruknya lagi2 senja tak mengeksploitasi diri
dan menjatuhkan kesadaran pada titik terendah kehidupan

sakit ya?

Lama-lama menunggu,
mengamati banyaknya gelegar suara petir dan macet yg menjeburkan drama
nyatanya, sepasang senja masi tak berekrperimen dengan metamorfosa bersama

dan cara paling alami untuk lagi2 melepas lembaran catatan hati;

membasahi hujan dengan timbunan beberapa tahun silam

komitmen naik turun tanpa kepastian

well, kemarin

jika diberi kesempatan

harusnya senja mengomentarimu dengan rindunya,
rinduku.
Meski bukan milikmu

tapi,
ahh sudahlah toh hujan tetap berkelanjutan menenggelamkannya

juga wujud si tampan yg bertahun2 tak lagi kelihatan

aku rindu mencubit jingga dengan senyummu
mendengar tawa yg simetris dari bibir manismu
mengamati berapa sudut tajam dari mata sipitmu

dan menyangsikan

ribuan sengguk yg ku bawa pulang

apa kabar?

Maaf untuk rindu yg sebentar mencacak banyak2 peringatan….

Jika nanti (mati

Aside

Patung-patung lilin
porselin warna-warni
lebih murahan dari kami yg asli
ini kisah tentang sedikit kematian
. . .
Setidaknya, jika nanti kain putih menutupi seluruh diri
membenamkan raga yg tak lagi bernyawa
kami hanya ingin dikenang
bukan ditangisi, karna sungguh mengganti ac dengan rintih kehilangan kalian lebih berarti
berhari-hari jua
kami masi menerbangkan diri di pojok langit2 rumah
menyaksikan siapa saja yg lagi2 menangis tak berarti
atau membisikan “hei dia dulu bla bla bla”
melengkapi arti dari kesalahan kehidupan
nanti, jika kami mati
jangan ada tujuh hari
empat belas hari
dan kelipat tujuh lagi. . .
Karna itu membuang uang dan tabungan pencari nasi
kami lebih butuh lima kali sehari
melatunkan agar kami lekas ditenangkan.
Tentu saja oleh anak-anak kami yg solehah dan solehati
kami juga tak butuh nisan bertuliskan nama dan segala embel-embel duniawi
Spd,
ohya, temanku bilang . .
Ia kuliah agar bergelar.
Aku tertawa.
Konyol bukan?
Jangan tuliskan H pertanda keHajian
dan tanggak lahir serta kematian
selipkan tongkat pertanda di sana kami tertidur sementara. . .
Jangan juga, gundukan tanah kami
kami tak ingin menjelang kiamat asli,
jasad kami di jadikan bahan bakar dajjal yg menghabisi tiap tanah kematian yg menggunung
kami tak perlu didatangi wanita2 berminyak wangi dan kain hitam
liat dari depan pembatas tanah tidar
dan ingat saja kematian adalah penjemput paling tiba-tiba
datanglah para rojul
ingat-ingat dan sisihkan deaunan yg mengugurkan diri

tiba-tiba juga,
kematian seperti sebuah adegan akhir penuh pertanyaan

kenapa cepat?
Ia masih muda?
Kemarin masi tertawa bersama?

Memangnya kematian panji jompo untuk lansia

oyah tentang itu juga

jika boleh menyilang a b c d bak pilihan ganda
setidaknya Aku ingin memilih siapa yg pantas terbang lebih dulu.
Siapa?
Bukan-bukan mereka
silang saja aku.
Toh sebuah tiupan dalam api unggun tak begitu diharapkan jika angin di luar lebih besar

Mom’s . .

Aside

Bu.
Selamat tanggal lima
tanggal yg beberapa puluh tahun silam nenek yg tak sempat ku sentuh kulitnya itu melahirkanmu
bu.
Selamat tambah tua
ntah ini masalah atau bukan,
tapi ku pikir badanmu sudah melewati batas kegemukan
xexexe
we must diet!
Bu.
Aku masi ternganga
mendapati berapa banyak idealis dan kebaikan yg menjubah di badanmu
menutupi tiap rambut-rambut yg memutih di kepalamu
melegalkan tiap benci
menjadi sebuah kenyataan untuk perbaikan diri
Bu.
Aku pernah menangis sesenggukan,
membayangkan kau pergi mendahului aku dan adik2ku
ahh ya
aku takut mendengar gelagar dari angkara yg kau letupkan
Bu.
Aku masi mengagumi arti tak mengharap balasan dalam tiap kebaikan yg kau tebarkan
aku lelah menghitung,
berapa banyak orang yg datang meminta pertolong
bu.
Kalau disuruh memilih
kadang, aku hanya ingin menjadi wanita sebaik Anda dengan suaminya
tapi toh hidup seolah paksaan untuk sedikit terbeban karna label si sulung
Bu, jika hidup itu paksaan.
Apa juga untuk menghitung dosa-dosa yg beterbangan dariku untuk wanita sehebatmu
sebuah kewajiban?
Bu. . . . .
Maaf untuk ratusan kebodohan yg menciderai arti dari sebuah kemaafan
untuk belum apa-apanya anakmu ini memberikan apa-apa
untuk ketakperdulian atas permohonan singkat untuk didengarkan
aku bukan mendurhakai sebuah penolakan
tapi toh masing-masing anak punya hak untuk benar
lepas dari segala hal-hal yg bersifat tekanan
bahkan dari wanita yg menyusuinya hingga 3tahunan
toh ada paksaan untuk tak perduli dan tetap berjalan menyeimbangkan keputusan
Bu.
Aku menyayangimu
mungkin lebih dari Ayah yg menjadi suamimu
mungkin tak kurang dari Almarhumah Nenek yg menghadirkanmu

semoga tiap detik adalah keberkahan dalam hidupmu

anway,
berapa puluhan angka yg sekarang menggantung di atas kepalamu
yaah, untuk yg itu aku lupa xexexe

selamat mencuci
anakmu mau hunting dulu:-*

Marah

Aside

Aliran darah lebih cepat
saraf tak terkendali
sementara jemari lentik bercat hitam menari tak berhenti
hari ini aku kalut, seperti sepasang suami istri hendak disatroni oleh pemilik kontrakan karna menunggak berbulan-bulan
atau lebih
takut air bah menerjang sawah lagi karna pintu air jatiluhur kata news topik dibuka lagi
kehilangan?
Yahh
kami terpaksa menelan ludah
memasang telinga seperti diceramahi oleh kawan lama
kehilangan itu bukan sekali atau dua kali saja
tanpa ia bercacaca aku tau istilah perulangan atau reload fitur di salah satu browser pc ayah
tapi dengan diam dan tsunami kecil oleh mata bening?
Jugayah?
Ahh, tau arti memiliki sama dengan siap2 patah hati
aku ingin menjadi mahluk yg kehilangan panca rasa
lalu melayang tanpa takut lupa mencangklong parasut di punggung
juga mengenai pemilihan benar salah
toh mataku tak pernah seseronok mereka, mengamati raja berkencana dan menggelinjang “wah”
atau latah mendapati harga baju bolong yg orang-orang bego pakai demi mengikuti model di karpet blusuk

ku teriaki genangan air tenang yg memenuhi sebuah alasan yg biasa di sebut danau
memanggil kemarahan dan menarik kembali janji-janji yg terbasikan
“kau, maukah hentikan drama (agar) menyenangkan aku. Padahal tak pernah aku sesedih ini jika kau bungkus kebohongan berkali-kali”
atau maukah
“lacurkan kepentinganmu, bermain dengan emosi datar dan haluskan keinginan untuk menjauhi”
aku takut
berkali-kali kehilangan kepercayaan
dan berkali-kali membeli lagi kepercayaan
sementara berapa lama lagi aku masi ingin berbincang dan menertawakan tingkah yg kau sebut-sebut salah tingkah

aku kalut
seperti mau hujan tapi dipawangi orang agar tak hujan
. . .
Seperti tak pernah berkesudahan
awan mulai lagi menggumulkan pekat

So?what suld A du?

Aside

Kita menjejarkan langkah-langkah ringan berlari menampik riuhan gejolak acuh dan ketakperdulian
dan masing-masing kekosongan punya daya khayal untuk diisi dan dihidupkan kehadirannya
juga ini (menunjuk hati)
lamat-lamat
pura-pura
dan terbiasa dengan egoisasi tanpa negoisasi siapa yg sebenarnya harus benar-benar mengulurkan reruntuhan emosi
juga hati yg kembali tak terisi
dan senja . . .
Tak pernah sama semenjak kita melangkah masing-masing
toh langkah tak pernah berdua
juga ini
tumpukan mimpi bermisteri yg sulit aku ilustrasikan betapa sepoinya ilalang di planetmu
ya mimpi
aku tak perduli
tapi toh mimpi tak benar2 menenangkan saat aku mengisi lembaran soal ujian
is this realistis?
Aku pulang
aku kalah
aku menang
aku tak perduli
aku hanya seperti kapas-kapas yg diterbangkan bayu oleh kepasrahan
juga kali ini
ketika hati memilih tak lagi dipilih
siapapun ribuan detik ke belakang
aku akan lupa dan tetap tersenyum
mengamit sampul kisah yg kau gambarkan dengan aksen nyata
aku masi sama
hanya pura-pura mengubur resah
aku bukan hanya tersungkur dan rata dengan tanah
aku bukan lagi letupan dag dig dug karna jatuh cinta
aku kecewa
tapi masi enggan melepas rangkaian cerita kehilangan